Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses belajar. Dalam konteks siswa sebagai subjek belajar, dalam diri guru harus ada jawaban atas pertanyaan ”Apa yang harus dilakukan agar siswa mudah memperlajari bahan ajar sehingga ia dapat mencapai tujuan belajar?”
Menyediakan Media dan Sumber Belajar
Untuk dapat belajar maka siswa harus ”berhubungan” dengan sumber belajar. Sebagai fasilitator tentu sangat faham, bahwa tersedianya berbagai sumber belajar, media, dan lingkungan yang mendukung dapat memudahkan siswa dalam belajar. Untuk memudahkan siswa belajar maka tugas fasilitator adalah mengadakan sumber belajar, media belajar, lingkungan yang kondusif.
Menginformasikan
Sebagai fasilitator maka guru harus siap melayani rasa ingin tahu anak yang besar. Ketika anak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya maka seorang fasilitator harus bisa menunjukkan,: sumber informasi yang dapat menjawab pertanyaan siswa; dapat menunjukkan cara memperoleh jawaban; dan bahkan menjadi sumber belajar, guru harus siap menjelaskan, menginformasikan jawaban dengan berusaha melepaskan diri sebagai mengesah mutlak kebenaran simpulan anak, setelah mendapatkan informasi dari guru.
Membimbing
Sebagai fasilitator harus sangat memahami siswa secara individu, karena setiap manusia itu unik. Di lain pihak harus juga diyakini[1] bahwa setiap siswa memiliki potensi yang besar yang memungkinkannya untuk meraih ketaqwaan. Seorang guru yang melihat ini akan mencoba membimbing siswa sesuai dengan keunikan dirinya (gaya belajar, modalitas belajar, kecepatan belajar) sambil meyakini bahwa setiap siswa mampu. Inilah makna membimbing, yaitu memelihara siswa untuk berproses menggunakan potensi yang dimilikinya sesuai dengan gaya, ritme dan keunikan lainnya dan mempercayainya bahwa ia mampu belajar sampai pada ketaqwaan.
Guru tidak menentukan gaya belajar tertentu yang harus dilakukan siswa. Guru membimbing juga berarti ia berusaha menunjukkan arah, tanpa memaksa bahwa siswa harus menujunya dengan berlari atau dengan berjalan, atau bahkan cara berjalannya ditentukan guru. Guru hanya menunnjukkan bahwa siswa mampu berjalan dan berlari (kalau memang kenyataannya demikian).
Memberi Contoh
Memberi contoh disini dalam dua konteks. Yang pertama adalah memberi contoh bagaimana seorang pengemban amanah menjalankan amanahnya. Di sini maksudnya bukannya seorang guru membuat-buat perilaku tertentu agar dicontoh siswa. Akan tetapi lebih ke arah guru harus menyadari apapun yang dilakukannya itu dilihat, diamati dan ditiru oleh siswa. Kedua adalah guru memberi contoh dalam hal menunjukkan bagaimana suatu proses dilakukan. Misalnya guru memberi contoh cara melempar bola yang benar, lafadz â yang benar dan sebagainya.
[1] Sebagai contoh adalah eksperimen Pygmalion Efect
Filed under: KBM SD, Prinsip PBM, belajar, guru, mengajar, peran guru



