Pokok bahasan nilai tempat ternyata merupakan bahasan yang bisa membuat kening berkerut. Beberapa guru Matematika mengeluhkan sulitnya mengajarkan tentang nilai tempat, dan anehnya kurikulum Indinesia, pengajaran tentang nilai tempat ini sudah ada dari kelas 1 sampai kelas 4, dan keluhan guru masih itu itu juga.
Jadi sebenarnya niai tempat itu apa? ada lho guru yang masih melongo ditanya begitu, sampai cara mengajar dengan dekak-sekak juga kehilangan makna, hanya karena guru tidak benar-benar memahami arti dari nilai tempat.
Kalau saya menyarankan begini. Coba ketahui dulu, mengapa sepuluh ditulis 10. Duapuluh lima ditulis 25? Silakan renungkan saja! Saya hanya akan mengangkat sebuah cerita, yang jika pendekatan awal membilang caranya seperti ini, gak peninglah menjelaskan nilai tempat.
Pada jaman dulu mungkin orang belum membutuhkan perhitungan yang banyak. Untuk membedakan dua domba dari tiga domba mungkin bukan suatu masalah, toh terlihat langsung. Tapi coba sekarang lihat gambar sebelah bisakah anda langsung menentukan jumlahnya hanya dengan melihat? sulitkan.
Ini terjadi pada seorang anak gembala, jaman dahulu kala….:D namanya Adun (biar saja begitu, nama kakek saya juga Adun?) Adun melihat ternaknya dari hari ke hari semakin bertambah. Ia mulai resah di suatu pagi, apakah nanti sore dombanya akan kembali dengan jumlah yang utuh? Bagaimana caranya agar ia bisa memastikan hal tersebut. Waktu itu belum ada kata membilang, satu, dua, tiga. Jadi ya sudahlah, jangan ingatkan si Adun tentang membilang!
Adun ternyata anak yang cerdas, saking ia berpikir untuk mendapatkan jalan keluarnya, malaikat Jibril menurunkan petunjuk, pake jari saja!
Maksudnya, pake jari. satu jari menunjukkan satu domba. Adun mulai “membilang”. Ia keluarkan satu domba, ia tunjuk satu jari, keluarkan satu lagi, dua jari, dan seterusnya sampai lima jari terangkat.
Masih ada lagi domba. Ia keluarkan lagi, sampai yang terakhir. Sekarang jarinya sudah terangkat sembilan. Tapi kita musti ingat, yang terekam dalam pikiran Adun bukanlah “sembilan” karena dalam ceritanya belum ditemukan kata “sembilan”. Yang terekam adalah gambaran jari-jarinya yang terangkat semua kecuali satu.
Waktu belalu sudah sekarang domba yang dimiliki Adun sudah lebih dari sepuluh (kata kita). Adun bingung dong…bagaimana lagi nih caranya….. turun lagi deh petunjuk dari Jibril
Jangan Anda membayangkan Adun akan menggunakan jari kakinya, itu tidak e….kurang cerdas
Yang dilakukan Adun adalah. Apabila jari tangannya telah terangkat semua (sepuluh: kata kita) lalu dombanya masih ada, maka ia akan menggantikan sepuluh (kata kita) jari dengan satu kerikil, dan Adun mulai kembali membilang dombanya dengan jarinya.
Wah sekarang dombanya ada dua kerikil dan dan lima jari. Coba hitung jadinya dombanya ada berapa?
Renungkanlah cerita ini, untuk saat ini. Nanti kita bertemu lagi dengan cara KBM nya OK. Silakan komentari setuju atau tidak? atau apa hasil renungan Anda?
Filed under: KBM SD, SD Kela 1-3




